Saturday, October 26, 2013

DIALOG KERINDUAN 3

(sebuah email yang tak pernah sampai....)

ayah... ayah...
betapa kuingin kembali ke pelukan hangatmu...
betapa kuingin kembali mendapatkan ciumanmu...
betapa kurindu dirimu...
ayah... ayah... ayah...
ku tahu kini rindu itu tinggal harapan
ku tahu kini asa itu hanya sebuah mimpi
tapi kuyakin, satu masa nanti kita akan berkumpul kembali
insyaAllah di yaumil akhir nanti...
ayah...
hanya ini ungkapan rinduku padamu yang tak bertepi....


tanggal 25 Oktober kemarin, kucoba berkirim email... ah... bahkan email ayah pun tidak mau menerima pesan lagi.. :-( 
 DAN DIALOG PUN MENJADI SEKEDAR MONOLOG.......................

DIALOG KERINDUAN 2

(JAWABAN UNGKAPAN RINDU ANAK DARI SANG AYAH)

Tersekat nafas didadaku saat kau memelukku, nanda
Beberapa saat itu pandang kalbuku kembali 30 tahun lalu
Bila kupulang kerja kau menanti dibalik pintu
Sembari mengangkat tangan minta gendongku
 
Duhai………..
73 tahun perjalanan hidupku kini,
Peristiwa itu tak sezarahpun lenyap dari lembaran kalbuku
 
Kini kau kembali memelukku………rinduku bergelora dalam kalbuku….
 
Sepekan  kita berkumpul………terasa bahagia dalam kalbu
 
Hanya sepekan……….
Wajah sendu dengan uraian air mata didalam innova……..
Sampai saat ini sering menjelma dalam kesendirianku…….
 
Selamat anakku………..
Semoga kau sukses dalam perantauan
Sukses dalam perjuangan
Sukses dalam mendidik anak bangsa
 
Ayah ikhlas kita berpisah…….
Meneruskan kiprah perjuangan mama…….
 
Jadilah srikandi Indonesia…………
Pahlawan sejati………Pahlawan tanpa tanda jasa……
 
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbingmu dalam melangkah
Rindu  dan do’a ayah dan mama .
.
Palembang, 06.7.2012 {Jum’at} 20.35
 

jawaban ini kudapat melalui email yang kubuka tanggal 8 Juli 2012

Wednesday, October 16, 2013

Cerita dari Kelana





Oleh : Keltan (kelana tandus)


Dulu…….
Terkadang aku bisa tersenyum ria……..terkadang juga aku bisa menangis sendu,bersama ulasan katamu penuh nikmat

Lalu kusemai bibit kasih…….kupupuk pepohonan  terakhir…tumbuh subur mendambakan hati dengan satu kedamaian….

Sayang setelah berdaun rindang…… mawar merah melati putih yang menghijau subur………kini terkulai layu……..
Dihantam terik sang surya  tiada  kenal ampun..

Dan kini…..
Hujan tiada damparkab air pada bumi……sedang terik mentari kian membara……
dedaunan hijau kian gersang bersama deraian tanah kian tandus,

Lalu……….kutadah tangan kelangit……
dengan hati bergeletar dipembaringan hampa..bersama isak nafas
tersendat dibawa  maut berlari………kau biarkan  ‘kelana’ mengharap curahan hati……

Kemana mana  batas penantian kelana….
Dilangkahkan  kaki keujung  jalan……..
dinanti ia  diperbatasan  kota……..ditemui ia disuatu senja……tapi sia sia….

Ah…kasihan….mengapa ia memutus hidup seria ini……..membunuh pepohonannditerik……

Curahkan  kasihmu dilubuk  hati…….sebelum langit dan bumi terkatub jadi satu.

                                    (kelana-sudut makam pahlawan)
                                      5 November 1967.

…..jika didunia kita tidak merasakan kedamaian….baiklah….
       Semoga diakhirat kita kan damai…….   

Madah Kelana




                                    ( kupersembahkan  rahasia kepada  penyunting syair pujangga)

Kalau sekali waktu hati ini berkata sendiri akan terungkailah segala rahasia lama dari sebatang pohon yang tumbuh ditaman pujangga, lahir dari perasaan hati yang sepi menanti.

Adakah kau tahu kekasih ? Bahwa syair yang kau dendangkan bersama nyanyian burung di dahan rampak menyanyi sepi melega hati itu menyayat hati musyafir lalu?

Sebab setelah lenyap  senandung rindumu, burung burungpun terbang lalu?!

Adakah kau tahu?
Bahwa air yang menyiram pohonmu hingga berdaun rimbun tempatmu berlindung dihari terik itu, akan kering lagi setelah mentari sempat mengecup dan membelainya?

Adakah kau tahu?
Bahwa batang yang kuat berakar tempatmu bersandar melihat tamasya yang molek berdandan menyambut fajar Illahi itu akan memeluk kasihmu sampai senja hari?

Adakah kau tahu?
Bahwa embun jatuh bertaburan dipohnmu rindu mengikat pandang musyafir lalu itu, ‘kan menghapus dahaga dari tenggorokkannya yang tandus?

Adakah kau tahu?
Bahwa tarian rembulan nan berlincah atas pohonmu sendu dimalam sepi pertanda kasihnya padamu?

Dan adakah kau tahu?
Bahwa beringin tumbuh ditaman indah nan tidak berbuah pula itu akan jadi tempat insan berlindung dari teriknya mentari?

Kalau sekali waktu hatimu berkata sendiri bahwa kau tahu itu semua, maka aku akan berkata:
“ tiada dosa bagi diri yang menerima suatu kedamaian hati dan anugerah yang ikhlas suci…..
Dan berbahagialah hati tiada dosa demikian…..

                                    (malam jum’at dinihari 02.05 wib,20 okt-
                                     1967. alone but never lonely- yasbudaya )

Saturday, October 12, 2013

ACARA 'GAYUNG BERSAMBUT' TVRI PALEMBANG era 80-an

PANTUN MENJELANG UPACARA PERNIKAHAN ADAT SUMSEL- Yas Budaya




*****************************
TATA KRAMA MENJELANG PERNIKAHAN

___________________ binti ___________________
dengan
___________________ bin ___________________


PENYAMBUTAN ROMBONGAN CALON MEMPELAI PRIA
MC      :           Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokaatuh,
                        Bismillahirrohmaanirrohim,
                        Alhamdulillahirobbil’alamin,
                        Assholaatu wassalaamu’ala Rosulillah,
Wa’alaa aalihi washohbihi ajma’iin.

Hadirin yang kami hormati,
Selamat datang kami ucapkan,
Semoga Allah, melimpahkan rahmat dan keselamatan,
Serta petunjuk dan bimbingan.

Banyak orang dalam  rombongan,
Tentulah ada yang dihajatkan,
Kalau ada yang hendak dikatakan,
Kepada ketua rombongan kami persilahkan.

KETUA ROMBONGAN      :
                        Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barokaatuh,
                       
                        Menumbuk padi di lesung batu,
                        Menampi didulang-dulang,
                        Kami datang dari jauh,
                        Mohon diterima dengan senang.

TUAN RUMAH                     :
                        Wa’alaikumussalaam wa rohmatullahi wa barokaatuh,
                        Buah berembang tumbuh di Kuala,

                        Dimakan paksi berkawan-kawan,
                        Kalau boleh kami bertanya,
                        Datang kemari apa tujuan.

KETUA ROMBONGAN      :
1.      Samarinda negeri asal daerah,
Kota palembang tempat tujuan,
Hajat hati mencari saudara,
Untuk menjalin kekeluargaan.

2.      Ada cerita dinegeri kami,
Dibawa dari kota bari,
Sekuntum mawar tumbuh bersemi,
Menawan hati bujang kami.

3.      Buluh Perindu suling sakti,
Suara merdu menyayat hati,
Rindunya sudah tak tertanggung lagi,
Demamnya semakin menjadi-jadi.

4.      Suara merdu si burung kenari,
Burung dara terbang tinggi,
Karena rindu kami datang kemari,
Bawa cindera mata tanda cinta kasih.

5.      Memakai gelang akar bahar,
Untuk penangkal sakit gigi,
Konon kabar yang kami dengar,
Keduanya telah mengikat janji.

6.      Naik sekunar ke pulau Selayar,
Pergi menangkap ikan tenggiri,
Kalau benar yang kami dengar,
Kami datang memenuhi janji.

7.      Pulau Bangka penghasil timah,
Pohon lada hasil sampingan,
Kalau cenderamata sudah diterima,
Mohon pula anak dinikahkan.

8.      Pohon mangga tumbuh digunung,
Tidak sebanyak tanaman salak,
Mohon maaf mohon ampun,
Kalau bicara banyak yang salah.

TUAN RUMAH         :
1.      Pasar Sekanak tempat berjualan,
Menjual sapi sembelihan kurban,
Kalau disimak dan direnungkan,
Tahulah kami kehendak dan tujuan.

2.      Kuning emas burung dewata,
Indah bulunya cahaya berkilauan,
Kami terima semua cenderamata,
Kalaulah itu maksud tujuan.

3.      Tinggi batang si pohon bira,
Daunnya lebar jatuh ketanah,
Rombongan datang kami gembira,
Dengan gegawaan cenderamata.




4.      Kelapa tumbuh di ujung dusun,
Airnya diminum terasa segar,
Cerita tuan kami dah maklum,
Apa yang didengar adalah benar.

5.      Anak saudagar pergi berburu,
Kadal melompat ke lubang batu,
Kami mendengar rasa terharu,
Bakal mendapat anak menantu.

6.      Itik serati berenang di kali,
Asyik makan daun keladi,
Puteri kami memang mengikat janji,
Dengan putra Bapak yang baik budi.

7.      Menangkap kuda di tengah padang,
Badak bercula sukar didapat,
Lengkap sudah segala gegawaan,
Sempurna pula, syarat beradat.

8.      Anak tekukur si burung balam,
Kena pikat putra Bangsawan,
Sudah cukup panjangnya kalam,
Tiba saatnya anak dinikahkan.

9.      Kalau desa menjadi kota,
Tanda dunia mulai tua,
Kalau  ada yang salah kata,
Mohon maaf setulus-tulusnya.

Wassalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh.



MC      :           Hadirin yang terhormat,
Gayung telah bersambut,
Kata bulat telah mufakat,
Terkabul pula semua hajat.

Dengan mengucap : “Bismillahirrohmaanirrohiim”,
Acara akad nikah,

___________________ binti ___________________
dengan
___________________ bin ___________________

                        segera kita laksanakan.

Kepada para hadirin, para undangan, dan rombongan calon besan, kami silahkan masuk ke ruang upacara pernikahan.



***********************************************




Plg, 22022004
Yas Budaya.

TATA KRAMA ACARA SUAP-SUAPAN DAN CACAP-CACAPAN - Hayati Yas Budaya



Rangkaian acara pernikahan di Palembang dilengkapi dengan acara suap-suapan dan cacap-cacapan. Sebagaimana budaya di daerah lain, acara suap-suapan menjadi ciri khas pelengkap sebuah akad nikah, dimana pengantin pria memberikan sesuapan hidangan (biasanya nasi kuning) kepada pengantin wanita dan begitu pula sebaliknya. Namun, di daerah Palembang, acara ini tidak sebatas suap-suapan antara pengantin pria dan wanita saja, melainkan pula orang tua dan kakek nenekpun, ikut memberikan suapan dengan diiringi nasihat yang penuh hikmah. Setelah suap-suapan dilaksanakan, dilanjutkan acara cacap-cacapan, dimana air menjadi simbol utama kehidupan dipercikan kepada kedua pengantin. Berikut ini naskah tata krama acara suap-suapan dan cacap-cacapan yang dilakukan pada acara pernikahan di kota Palembang.
Semoga bermanfaat.
Sumber: Yas Budaya’s File, 2004
Dipublikasikan oleh: Beranda Rumah Alif


TATA KRAMA  ACARA  SUAP-SUAPAN DAN  CACAP-CACAPAN


Rangkaian adat  pernikahan

____________ binti ____________
dengan
___________bin __________


Hari                 :  __________________
                                    Tanggal           :  __________________
                                    Waktu             :  __________________
                                    Tempat            :  __________________
-----------------------------------------------------------

PEMANDU    ( MC ) :
                                      Assalamu’alaikum wr.wb
                                       Dengan nama ALLAH, TUHAN PENGASIH DAN PENYAYANG. Segala Puji bagi Allah. Rahmat dan keselamatan, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw, Rasul pilihan.
                                       Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah Swt., dengan Rahmat-NYA, sampailah kita kepada acara adat yang melengkapi acara pernikahan :
_____________ binti _____________
dengan
   ___________________bin___________________                    
Hadirin yang berbahagia !
Suap – suapan adalah simbol dari suatu proses kehidupan. Dimana kedua mempelai sejak lahir kedunia hingga dewasa diasuh, di pelihara dan di besarkan ayah bundanya, dengan penuh kasih dan sayang.
Ananda berdua diasuh dengan kasih sayang, di beri pendidikan agar menjadi orang berguna, sampai pada saatnya, ananda mampu hidup mandiri. Sejak akad nikah tadi, pada hakikatnya, selesailah tugas ayah bundamu.
Ananda berdua sudah siap mandiri, membangun dan membina rumah tangga sebagai suami istri.
Suapan ini, .......... adalah suapan akhir dari orang tuamu, seraya melepas ananda berdua memasuki bahtera rumah tangga. Mengarungi samudra kehidupan yang tiada tahu batasnya.
Kami orang tua, hanya mampu merasakan dan melepas ananda berdua dengan iringan do’a :
SEMOGA ANANDA SUAMI ISTRI, HIDUP SEJAHTERA, DALAM LIMPAHAN BAROKAH DAN RIDHO ALLAH SUBHANAHU WA TA’ ALA....... AMIIIN !
------------------------------------------------
Bapak bapak, Ibu ibu yang berbahagia !
Untuk acara suap suapan ini, kami mohon kepada ibu ibu yang kami sebut namanya untuk memberikan suapan kepada kedua mempelai.
                                                                                            
Pertama, Kepada ibu (nama:.............................) ibu kandung mempelai wanita, kami silahkan memberi suapan kepada menantu terlebih dahulu yaitu (nama mempelai pria) dengan iringan pantun :
Ambil pucuk bambu temiang
Batang padi tumbuh sebatang
Kepada (pengantin pria) ibu berpesan
Ananda (pengantin wanita) jangan kau sia siakan

Suapan berikutnya diberikan kepada (nama mempelai wanita) dengan iringan pantun :
               Pagi hari menumbuk padi
               Sudah di tumbuk lalu di tampi
               Hari ini (pengantin wanita) ibu suapi
               Kalau esok suaplah sendiri

                                       Kedua, kepada ibu .................... ibu kandung mempelai pria, kami silahkan memberikan suapan kepada menantu terlebih dulu yaitu (PENGANTIN WANITA), dengan iringan pantun :
                                                      Buah mangga rasanya manis
                                                      Tumbuh didekat pohon durian
                                                      Agar rumah tangga tetap harmonis
                                                      Ciptakan suasana saling pengertian
                                       Suapan selanjutnya di berikan kepada (PENGANTIN PRIA) dengan iringan pantun :
                                                      Burung pipit terbang sekawan
                                                      Hinggap bertengger di rumpun padi
                                                      Kepada (pengantin pria) ibu berpesan
                                                      Binalah keluargamu setulus hati
                                                                 
                                       Suapan Ketiga, kami silahkan kepada ibu.................... nenek mempelai wanita untuk memberikan suapan kepada cucu laki laki lebih dulu, dengan pantun :
                                                      Bulan purnama di malam indah
                                                      Saatnya remaja becanda ria
                                                      Cucunda seumpama seorang nakhoda
                                                      Arahkan bahteramu ke pulau bahagia
                                       Suapan berikutnya diberikan kepada cucunda (pengantin wanita), dengan iringan pantun :
                                                      Pindang salai ikan tenggiri
                                                      Dibeli dari pasar Bengkulu
                                                      Pandai pandailah menjadi istri
                                                      Agar suami sayang selalu

                                       Hadirin yang berbahagia, suapan berikut ini akan di berikan oleh Ibu..................nenek mempelai laki laki memberikan suapan kepada cucunda (pengantin wanita) lebih dahulu, dengan iringan pantun :
                                                      Dari Samarinda pulau Kalimanrtan
                                                      Pergi berlayar menuju Palembang
                                                      Kepada cucunda nenek berpesan
                                                      Berbuatlah baik agar orang senang
                                       Selanjutnya suapan kepada cucunda (pengantin pria), dengan iringan pantun :
                                                      Banyak rumput di halaman
                                                      Biduk kehilir singgah di kuala
                                                      Agar hidup merasa tentram
                                                      Banyaklah berzikir mengingat Allah
                                       Suapan ke lima, diberikan  oleh ibu .................. dari keluarga mempelai wanita, memberi suapan kepada (pengantin pria), dengan iringan pantun :
                                                      Puasa Asyura sepuluh Muharam
                                                      Buka puasa makan Kurma
                                                      Supaya ananda jiwanya tentram
                                                      Jangan lupakan tuntunan agama
                                       Selanjutnya suapan diberikan kepada (pengantin wanita) , dengan iringan pantun :
                                                      Naik biduk perahu papan
                                                      Hanyut terapung di air pasang
                                                      Walau sibuk dengan pekerjaan
                                                      Jangan lupa ngaji sembayang


Hadirin yang berbahagia !!   Suapan terakhir akan di berikan oleh ibu .............. dari keluarga mempelai Pria.
Suapan pertama diberikan kepada (pengantin wanita), dengan iringan pantun :
                                  Hari Selasa menanam mangga
                                  Hari Rabu menyiram batangnya
                                  Jagalah rahasia rumah tangga
                                  Agar rukun dalam keluarga
Selanjutnya suapan diberikan kepada  (pengantin pria), dengan iringan pantun :
                                  Terkenal kayunya di Kalimantan
                                  Ulin namanya harganya mahal
                                  Agar hidup di ridhoi Tuhan
                                  Carilah nafkah barang yang halal


Hadirin yang berbahagia !!
Demikianlah selesai sudah acara suap – suapan. Beralih kita keacara cacap cacapan.
                     
Hadirin yang berbahagia !
Air adalah sumber kehidupan. Air merupakan penawar dan pendingin. Bila pikiran kita sedang kusut dan kemelut , ambilah air segera berwudhu ........
Insyaallah, emosi yang bergejolak akan reda, pikiran kusut jadi tenang, akalpun dapat berjalan ..........
Air dengan sifatnya yang sejuk, lambang kesabaran dalam menghadapi setiap permasalahan.
Dengan cacapan air di kepala, kita hadapi setiap permasalahan, dengan pikiran tenang dan hati yang sabar.
Inilah lebih kurang makna dari cacap cacapan yang akan kita laksanakan berikut ini.
Kami mohon kepada bapak bapak yang namanya kami sebut, kiranya berkenan untuk mencacapi ubun ubun kedua mempelai.

Pertama,  kepada Bapak .......................... Ayah Kandung mempelai wanita, kami silahkan mencacapi ubun ubun mempelai Pria lebih dulu dengan iringan pantun :
                                  Ambil air Batanghari Sembilan
                                  Beri ramuan bunga setaman
                                  Cacapan dikepala penyejuk perasaan
                                  Agar sabar menghadapi zaman
Selanjutnya cacapan kepada ananda (pengantin wanita), dengan iringan pantun:
                                  Menganyam atap daun purun
                                  Pohon beringin tumbuh di halaman
                                  Air dicacap di ubun ubun
                                  Penawar, pendingin, penenang perasaan

  Cacapan kedua, kami silahkan kepada Bapak ............................ Ayah kandung mempelai Pria, memberi cacapan kepada menantu  dengan iringan pantun :
                                                   Ketan kunyit panggang ayam
                                                   Masakan (pengantin wanita) gadis Palembang
                                                   Supaya hidup aman dan tentram
                                                   Rajin rajinlah ngaji sembayang
  Cacapan  berikutnya   kepada  ananda  (pengantin pria),  dengan    
  iringan pantun :
                 Dari Palembang ke Samarinda
                 Membeli sarung tenunan Sutra
                 Kalaulah sedang hidup bahagia         
                 Janganlah lupa bersyukur pada Allah

Cacapan  ketiga, kami silahkan Kakek mempelai wanita, Bapak......................, untuk memberikan cacapan kepada mempelai Pria, dengan iringan pantun :
             Naik kapal dari Samarinda
             Pergi berlayar menuju Palembang
             Kepada mempelai kami berfatwa
             Berbuatlah baik agar orang senang
Selanjutnya cacapan diberikan kepada cucunda (pengantin wanita), dengan iringan pantun :
           Pergi ke pantai mencari lokan
           Naik perahu mengarung lautan
           Kepada mempelai berdua kami do’akan
           Semoga hidup penuh kedamaian


Hadirin yang berbahagia !!
Cacapan selanjutnya kami silahkan pula Kakek mempelai Pria, Bapak ........................... untuk mencacap ubun ubun cucunda (pengantin wanita) terlebih dulu dengan untaian pantun :
                    Bunga Melati sunting karangan
                    Rendam di air untuk cacapan
                    Rajinlah sujud kepada Tuhan
                    Mohon selamat dalam kehidupan
Kepada cucunda (pengantin pria), kakek berpesan :
                    Bunga  Kenanga sunting idaman
                    Harum mewangi sebarkan aroma
                    Kepada cucunda kakek do’akan
                    Semoga hidup, mawaddah warohmah



Hadirin yang berbahagia !!
Cacapan selanjutnya , kami silahkan dari keluarga mempelai Wanita, Bapak ..........................., memberi cacapan lebih dulu kepada (pengantin pria), dengan pesan :
                        Burung kenari terbang melayang
                        Dikejar elang hinggap ke dahan
                        Cintai istri dengan kasih sayang
                        Insyaallah kehidupan di ridhoi Tuhan
Selanjutnya kepada mempelai wanita, kami berpesan :
                        Kalau menjala di sungai Musi
                        Bawalah kail untuk cadangan
                        Hendaklah sabar menghadapi suami
                        Kesalahan kecil jangan di besarkan.

Cacapan selanjutnya kami persilahkan kepada keluarga mempelai Pria, Bapak .................... terlebih dahulu mencacapi mempelai wanita, dengan iringan pesan :
             Kelapa muda namanya dogan
             Airnya manis pelepas dahaga
             Kalau suami sedang bepergian
             Jagalah rahasia rumah tangga
Kepada mempelai Pria kami berpesan :
Mengolah tanah dengan bajak
Tanah di tanami padi pesemaian
Membina keluarga hendaklah bijak
Niscaya tentram dalam kehidupan

Demikianlah hadirin, selesai sudah acara cacap cacapan Dan selesailah pula acara adat suap suapan dan cacap cacapan  bunga adat budaya lama melengkapi acara pernikahan
        _______________ binti ___________________
dengan
___________________ bin ___________________

Sebelum acara ini ditutup dengan do’a bersama kami persembahkan seuntai pantun kepada mempelai :
             Kapal merapat ditepi dermaga
             Membongkar muatan rotan saga
             Agar berkat harta dan benda
             Jangan lupa zakat dan sedekah
             ==
             Daun kerakap dalam penginangan
             Kapur sirih sebagai tambahan
             Agar selamat dalam kehidupan
             Dekatkan diri kepada Tuhan

Hadirin yang berbahagia !!
Marilah kita memohon ridho dan berkah kepada ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA dengan memanjatkan do’a bersama.
Untuk memimpin do’a ini kami mohon kepada :
Yth : ..................................................
Do’a                            : ......................................................................... Amin !!
Pemandu  ( MC )        :
 ( Penutup )                 :                       Naik kereta arah ke Lahat
                                                            Pergi kesawah memetik jamur
                                                            Selesai sudah acara adat
                                                            Budaya lama warisan leluhur
                                                            ==
                                                            Listrik mati malampun gelap
                                                            Hendak berjalan kaki tersandung
                                                            Kepada hadirin mohon maaf
                                                            Kepada Tuhan mohon ampun
                                   
                                                Wassalamu’alaikum warohmatullahi wa barakatuh.


Plg, 22022004
Hayati Yas Budaya